Peringatan
Hari Raya Idul Fitri begitu dinanti-nantikan oleh jutaan Muslim di seluruh
dunia, tak terkecuali di Indonesia. Bahkan, umat Islam di Nusantara ini
dalam menyambut hari kemenangan setelah sebulan puasa, begitu luar biasa
dibandingkan umat muslim lain di berbagai penjuru dunia. Dan berikut kami sajikan 12 fakta menarik seputar
“keriuhan” Idul Fitri di Indonesia.
- arus mudik. Seperti yang telah di ungkapkan oleh Bpk presiden Joko widodo bahwa mudik dan pulang kampong berbeda, bedanya dimana si… Arus mudik ini adalah arus orang-orang yang pulang dari kota-kota besar menuju kampung halaman atau tempat asalnya pada saat lebaran tiba. Sedangkan pulang kampong bias sewaktu waktu.. Mulai dari H-7 Idul Fitri, arus kendaraan biasanya padat merayap, dan tak sedikit memakan korban. Mereka rela dan mau berjuang dalam kemacetan demi untuk bertemu keluarga.
- Kedua, takbiran. melantunkan takbir berulang-ulang–adalah hal yang paling romantis dan menakjubkan. Suara lantunan takbiran inilah yang membuat orang tak kuasa berada di luar kampungnya sehingga memaksa untuk mudik. Ada hal unik dalam melantunkan takbiran di Indonesia yaitu takbiran keliling kampung dengan oncor dan alat musik tradisional. Dengan iringan tabuhan bedug yang khas, takbiran di malam Idul Fitri begitu mengharukan, dan mampu menderaikan air mata. Bagi yang ada di tanah perantauan, bersiap-siaplah untuk tersayat hatinya dan berlinang air matanya mendengar lantunan kebesaran ini.
- Ketiga, ziarah kubur.Menjelang Idul Fitri, biasanya H-1, warga Muslim berbondong-bondong menuju ke makam orang-orang yang merupakan asal-usulnya. Mereka tak melupakan sejarah. Di hari-hari ini, pedagang bunga laku keras, omzet berlipat-lipat dari biasanya. Di depan makam leluhurnya, mereka merapalkan ayat-ayat suci dan doa kepada orang-orang yang dicintainya agar senantiasa dalam naungan-Nya, dilanjutkan tabur bunga, sebagai ganti pelepah kurma basah yang disebut dalam salah satu hadits nabi untuk mengurangi siksa kubur.
- Keempat, suara petasan. Petasan atau mercon atau long di beberapa daerah Ada yang terbuat dari kertas, ada juga dari karbit, atau bambu (bumbung). Suaranya seperti bom atau meriam. Di tahun 90-an, di mana petasan masih bebas, semarak Idul Fitri begitu terasa. Gelegar dan gemuruh suara bersahut-sahutan di mana-mana. Sayang, seiring larangan dari otoritas karena “efek sampingnya” yang membahayakan, petasan kini jarang terdengar. Lebih disayangkan lagi, petasan dilarang tetapi tidak untuk produk-produk tertentu seperti kembang api, yang sepertinya produk impor. Di hari Idul Fitri, suara petasan di Indonesia adalah sebuah tradisi, sejarah dan legenda yang sungguh sayang untuk dilewatkan.
- Kelima, THR. Kepanjangannya adalah Tunjangan Hari Raya. THR biasanya diberikan oleh pengusaha kepada buruh, politisi kepada konstituennya, pejabat kepada bawahannya, atau pimpinan kepada para pendukungnya. THR bisa berupa uang, sembako, atau hal-hal lain yang sekiranya menunjukkan simpati dan cinta untuk menghadapi hari bahagia. Terkhusus bagi anak-anak, THR berupa salam tempel. Hal inilah yang membuat orang berduyun-duyun menukarkan uang receh, untuk diberikan kepada anak-anak kecil yang tak kenal lelah silaturrahmi ke sana-sini merajut tali persaudaraan.
- Keenam, sidang itsbat. Sidang itsbat adalah sidang penetapan awal Syawwal. Hal ini menarik karena di Indonesia seringkali berbeda-beda dalam penetapannya dan terkerucut pada dua organisasi massa Islam: NU dan Muhammadiyah.
- Ketujuh, pakaian baru. Baju baru alhamdulillah, dipakai di hari raya, tak punya pun tak apa-apa, masih ada baju yang lama. Itulah lirik lagu yang dinyanyikan oleh Dhea Ananda dan ngehits di era 90-an. Salah satu bentuk antusiasme masyarakat Indonesia menyambut Idulfitri ialah membeli baju baru. Baju baru pun wajib di pakai saat salat id. Bahkan tak hanya baju yang harus baru, melainkan mukena untuk salat wanita pun harus baru. Meski demikian, hal ini tak diharuskan karena hakikatnya Idul Fitri bukanlah bagi orang yang berbaju baru, tetapi bagi orang yang ketaatannya kepada Allah kian bertambah.
- Kedelapan, ketupat opor. Tak lengkap bicara tradisi dan budaya Indonesia tanpa bicara kuliner. Untuk urusan teknologi, kita (masih) kalah dengan Jepang dan Cina. Tapi tidak untuk urusan makanan. Di sini, semua makanan ada, termasuk tradisi di Hari Fitri, yaitu ketupat dan opor ayam. Ketupat adalah nasi lembut yang dimasak menggunakan janur kuning. Sedangkan opor ayam adalah masakan ayam dengan santan, bumbu dan rempah-rempah khas yang kaya rasa sehingga maknyus di lidah.
- Kesembilan, halal bihalal. Nah, inilah nah inilah penamaan yang unik yang hanya ada di Indonesia. karena semakin pesatnya arus urbanisasi, tak memungkinkan untuk sowan, sungkem, dan meminta maaf kepada saudara, teman dan kerabat secara intens. Untuk itu, biasaya warga muslim Indonesia menggunakan metode berkumpul bersama dan saling maaf memaafkan dalam satu waktu, oleh KH Abdul Wahab Chasbullah hal seperti ini diberi nama halal bihalal yang sebenarnya tidak ada dalam kamus bahasa arab.
- Kesepuluh, pertanyaan misterius. Suasana Idul Fitri–atau banyak yang menyebut Hari Lebaran–adalah suasana kehangatan kumpul keluarga. Dalam forum itu, berbagai hal dibicarakan, mulai dari bertanya kabar, pekerjaan sampai hal-hal sepele. Bagi anak yang sudah berumur–baik cowok maupun cewek, apalagi yang jomblo–harus siap-siap berbesar hati menghadapi pertanyaan aneh dan sulit. Berdasarkan Lembaga Survey Asal-asalan (LSA), ada satu pertanyaan yang paling sulit dan misterius bagi para kawula muda, yaitu: “kapan kawin?”
- Kesebelas, “Merampok”. Khusus yang terakhir ini, dapat dikatakan tradisi bukan tradisi. Pada umumnya, setelah setahun merantau di kota, mereka pulang ke kampung halaman membawa oleh-oleh dari kota berupa pakaian, makanan atau hal-hal lain sebagai hadiah kepada orang tua dan saudara-saudaranya. Ini juga sebagai cinta dan identitas bahwa mereka benar-benar bekerja di kota. Meskipun demikian, kata pepatah tak dapat dipungkiri: kasih ibu sepanjang jalan, sedangkan kasih anak sepanjang penggalan. Ketika sang anak hendak balik ke kota, orang tua membalasnya dengan bekal aneka macam: dari berkarung beras, makanan, sayuran, jajanan, sampai tanaman. Seakan anak tak mudik, tapi merampok orang tua!
- Merencanakan liburan keluarga. Di tengah keasyikan menikmati libur panjang Idulfitri, sebagian orang pun mempunyai tradisi berlibur bersama sanak saudara. Tempat-tempat wisata pun membludak dengan lonjakan pengunjung. Biasanya yang menjadi tempat favorit keluarga libur Idulfitri tiba ialah seperti pantai, pegunungan dll.
Itulah beberapa tradisi yang tak pernah absen saat Idulfitri
tiba. Semoga di Idulfitri kali ini kita meraih kemenangan.
Komentar
Posting Komentar